PSG Memecat Pochettino, Apa yang Terjadi Selanjutnya?

psg memecat pochettino

Setelah mengejutkan dunia sepak bola, karena berhasil mempertahankan pemainnya Kylian Mbappe padahal selangkah lagi ke Real Madrid, kini PSG mengejutkan lagi. Klub PSG memecat Pochettino, sang pelatih.

Tampaknya luar biasa, tetapi ceritanya dikabarkan sudah berakhir.

Delapan belas bulan setelah kedatangannya di PSG sebagai manajer yang sangat ambisius menurut penilaian klub kurang berhasil. Dia yang pernah 20 tahun menjabat sebagai Kapten Klub, mengakhiri masa jabatan keduanya.

Sumber ESPN menyebut, Mauricio Pochettino dipecat beberapa minggu setelah mengangkat trofi Ligue 1. Trofi tertinggi kompetisi antar klub di Prancis.

Retrouvvailles (reuni) tidak pernah berhasil. Masa jabatan untuk kedua kalinya yang hanya sebenat akan selamanya membawa perasaan buruk tentang apa yang bisa terjadi.

Terlalu banyak masalah yang mengubah waktu yang indah dan romantic menjadi sesuatu yang sulit dan terkadang tidak nyaman. Akhirnya PSG memecat Pochettino.

PSG Memecat Pochettino, Apa yang Salah?

Bermain di kompetisi Prancis memang membutuhkan banyak hal, bukan hanya menang. Apalagi sepuluh tahun terakhir, klub telah menjadi juara Ligue 1.

Untuk berhasil di Paris, seseorang harus menjadi manajer yang sangat baik. Itu berlaku juga pada Pochettino. Dia juga harus cakap dalam berkomunikasi, yang sayangnya tidak bisa dilakukannya.

Selain itu, tim juga harus bermain bagus. Ini bukan hanya tentang menang, tetapi menang dengan gaya. Hal yang tidak terjadi sepanjang keberadaan Pochettino di Parc des Princes, markas PSG.

Tidak hanya itu, dia atas semua kekhawatiran tentang apa yang terjadi di lapangan, pelatih juga diharapkan dapat menangani kasus politik di dalam klub. Dia tidak dapat melakukannya. PSG memecat Pochettino.

Pembuat keputusan di PSG berperan sebagai pengganggu yang buruk. Ketidakhadiran Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani sebagai pemilik dan Nasser al-Khaelaifi sebagai Presiden, situasi menjadi tidak terkendali.

Pochettino harus bisa memuaskan banyak orang dan harapannya. Dengan demikian, dia mengalami tekanan yang besar. Ruang ganti pemain juga menambah situasi yang sudah memburuk.

Pochettino berjuang dalam kondisi yang sama dengan manajer PSG sebelumnya, seperti Unai Emery dan Thomas Tuchel.

Hubungannya juga tidak baik dengan mantan Direktur olahraga, Leonardo, meski Pochettino datang atas permintaan Emir.

Di luar semuanya, nyata terlihat Mauricio Pochettino tidak memiliki otoritas penuh terhadap pemain. Dia ingin mengambil tindakan tegas terhadap pemain tim yang tidak menghormati aturan, tidak bisa. Sulit untuk mengelola tim mana pun dengan situasi yang demikian, hingga akhirnya PSG memecat Pochettino.

Laga Buruk PSG di Musim 2021-2022

Secara keseluruhan, PSG memecat Pochettino tidak hanya dengan alasan di atas.

Jatuhnya Pochettino, karena memberikan tontonan yang buruk di lapangan.

PSG menang Ligue 1, tetapi jumlah poinnya hanya 86 dengan 90 gol diciptakan dan 36 kali kebobolan.

Anak asuh Pochettino jarang menampilkan sepak bola atraktif dengan arah taktis yang jelas.

Mereka mengalami kekalahan memalukan dari klub Spanyol, Real Madrid di perempat final Liga Champions. Padahal, PSG sudah lebih dulu menang agregat 2-0. Real Madrid dalam 30 menit bisa come back dan memenangkan laga dengan skor 3-2.

Di level kompetisi lokal, Les Perisiens, julukan PSG tersingkir dari Coupe de France, setelah sebelumnya menang lima kali berturut-turut. Mereka kalah dari Nice di kandang sendiri pada babak 16 besar.

Bahkan, pada Piala Super Prancis, mereka juga kalah dari Lille.

Dalam catatan laga kandang, PSG juga sangat buruk, PSG tidak dapat memenangkan satu pum dari Sembilan laga kontra tim 10 besar. Tim-tim yang mengalahkannya, yaitu AS Monaco, Stade Rennais, Nantes, Nice. Sementara kontra Marseille, Lyon, Lens, dan Strasbourg, Mbappe dkk bermain imbang.

Tentu saja kekalahan klub yang ada Kylian Mbappe, Lionel Messi, dan Neymar menggawanginya berarti tidak cukup baik. Manajeman PSG memecat Pochettino di akhir musim 2021-2022.

Baca Juga : Raheem Sterling Buat Chelsea Lupa Lukaku, Akankah Raih Trofi?